Surat Masa Lalu dan Kegelisahannya
Judul: Surat Yang Berbicara Tentang Masa Lalu
Penulis: Ade Ubaidil
Penerbit: Basabasi
Cetakan: Pertama, Oktober 2017
Tebal: 210 halaman
ISBN : 978-602-6651-47-1
Buku kumpulan
cerpen karya penulis muda kelahiran Cilegon-Banten, Ade Ubaidil, peraih Ubud
Writers and Readers Festival 2017 ini berisi 19 cerita pendek. Dari beberapa
tema yang diangkat, salah satunya tentang sejarah. Seperti cerpen berjudul Surat
Yang Berbicara Tentang Masa Lalu.
Mengangkat tema fenomena
penembak misterius pada masa pemerintahan orde baru, cerpen ini menceritakan
kisah seorang anak yang menemukan surat-surat yang ditulis ibunya tentang
kehkawatiran terhadap sang suami yang tengah menjalani masa tahanan. Dari
sanalah, sedikit demi sedikit ia mulai memahami sebab-musabab kematian sang
ayah yang semasa hidupnya bekerja sebagai preman pasar. “Bapakmu hanya akan
dipenjara dan akan bebas lagi. Aku tetap merengek dan menganggap bahwa ibu
hanya asal bicara. Siapa tahu dalam penjara bapak akan disiksa lebih dulu
sebelum akhirnya dibunuh?” (hal 39)
Meski akhirnya sang ayah bebas
dari penjara, namun setelah beberapa hari kemudian, ia harus menerima kenyataan
bahwa lelaki yang memiliki tato harimau di lengan kiri itu ditemui dalam
kondisi tak bernyawa di pinggir sungai. “Akhirnya aku memilih untuk melaporkan
ini pada ibu dan meyakinkan kalau mayat itu bukan bapak. Siapa pun bisa
memiliki tato bergambar harimau, bukan?” (hal 44)
Beragam peristiwa yang diangkat
dari realita sehari-hari, menjadi begitu dekat dan lekat dalam imajinasi
pembaca sehingga layak menjadi bahan perenungan. Seperti dalam cerpen Sepasang
Sendal di Depan Pintu Neraka. Gaya penulisan surealis yang memaksa pembaca
untuk memahami makna secara terbalik, membuat cerpen ini sukses memancing emosi
sekaligus kekaguman di paragrap pertama. Bayangkan saja, bagaimana bisa kita
memahami seorang anak muda yang hendak berkunjung ke neraka untuk menengok
kakaknya yang meninggal dua hari lalu. Dengan keunikannya ini, maka tak heran
jika cerpen ini ditempatkan di urutan pertama.
Diceritakan pertemuan si tokoh
utama dengan malaikat Malik di depan gerbang neraka. Bersikap santai dan
terkesan sombong, tokoh dalam cerita ini berdialog dengan malaikat seperti
halnya berbicara kepada marbot masjid. Namun dengan logika yang dibangun, anak
muda itu membuat malaikat Malik mengalah dan mempersilahkan masuk.
Di dalam neraka, ia melihat
kejanggalan yang terjadi. Penyiksaan atas hukuman perbuatan semasa hidup di
dunia dialami oleh orang-orang yang dianggapnya suci. Bagaimana ia menyaksikan
guru mengajinya sendiri disiksa, kiyai, ustad dan orang-orang saleh lain
mendapat hukuman, menimbulkan satu pertanyaan di benaknya. Proteslah ia kepada
malaikat Malik. “Begitulah manusia. Dari pengetahuannya yang terbatas, mereka
selalu merasa tahu segalanya. Bahkan soal kehidupan seseorang yang dinilai
secara sepihak. Segalanya terjadi atas kehendak Tuhan. Tetapi manusia selalu
lancang belaga mendahuluinya. Padahal Tuhan maha tahu akan apa yang manusia
lakukan.” (hal 16)
Selain itu,
kelahiran sebuah karya tentu tak akan pernah bisa lepas dari latar belakang
kehidupan si penulisnya. Begitu pula yang dialami Ade Ubaidil. Mengkritisi
situasi politik maupun kondisi sosial ekonomi di Cilegon, ia menuliskannya
dengan sangat elegan. Seperti dalam cerpen Gunung Pinang dan Roti Pengganjal
Perut. Menggambarkan kemiskinan dua anak pemulung yang kelaparan, sedangkan di
sisi lain, para penguasa leluasa mengeruk gunung demi kepentingan pribadi dan
kelompoknya, ditambah lagi kasus korupsi yang sepertinya sudah biasa terjadi.
Lantaran uang hasil mencari rongsokan tak cukup untuk membeli makan, anak
pemulung itu mencuri roti di warung dekat gunung.
Masih banyak
cerita lain yang lebih menarik dan tak kalah seru. Seperti cerpen Kiyai Peci
Miring, Kupu-kupu Kematian, Jejalon Ibu, Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen,
Yang Mati di Bubungan, Pesawat Kertas dari Bawah Tanah, Bahan Bakar Terakhir di
Dunia, Bank Endonesa, dan lainnya. Cerita Pendek dalam buku ini sebagian besar
sudah dimuat di berbagai media baik cetak maupun online seperti, Majalah
Jawara, Harian Republika, Litera.co.id, Banten news dan menang dalam beberapa
ajang lomba menulis cerpen.
Diresensi oleh Daru Pamungkas, Mahasiswa UIN Sultan Maulana
Hasanudin dan Relawan Rumah Dunia.

Sangat detil dan lugas. Terima kasih apresiasi nya Mas Daru.
BalasHapussama-sama om Ade. hehe
BalasHapus