Dana Desa,
Penguasa dan Karakter kita
Oleh Daru
Pamungkas
Sejak kehadirannya pada 2015, dana desa
sebenarnya sudah menimbulkan kekhawatiran dari berbagai kalangan masyarakat baik
akademisi, pengamat politik maupun pelajar dan mahasiswa. Dana yang nilainya
cukup besar itu, sangat riskan menjadi sumber masalah baru penyakit akut para
penguasa negeri ini. Korupsi, yah itulah namanya. Sungguh sangat mengenaskan,
dengan kehadiran dana desa, kita seolah sedang dipermainkan oleh kanyataan.
Berangan-angan akan hadirnya kemajuan, yang datang lagi-lagi hanyalah
keterpurukan.
Seperti
menjawab apa yang selama ini ditakutkan, Tuhan akhirnya memberi kita pemahaman
bahwa dana desa mungkin bukanlah cara yang tepat untuk meraih kesejahteraan
bagi tipe masyarakat Indonesia yang pemimpinnya masih haus akan kekuasaan.
Dengan ditangkap tangan kemudian ditetapkannya Bupati Pamekasan Jawa Timur,
Ahmad Syafii Yasin, Kepala Inspektorat Kabupaten Pamekasan Sutjipto Utomo,
Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Rudi Indra, dan Kepala Desa Dasok, Pamekasan,
Agus Mulyadi, sebagai tersangka suap kepada penegak hukum atas penyelewengan
dana sebesar Rp. 100 juta oleh KPK pada
Rabu, (2/8). Dana desa benar-benar menjadi sumber masalah baru. (Kompas, edisi Kamis 3/8, 2017)
Dana desa
sendiri merupakan dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukan bagi desa
yang ditransfer melalui APBD Kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Namun pada
kenyataannya, dana desa menjadi ladang usaha baru bagi penguasa di tingkat
paling tinggi sampai terendah yang ada di desa. Hal ini sungguh sangat
menghawatirkan. Jika di Pamekasan saja bisa terjadi hal seperti ini, lalu, bagaimana
dengan wilayah lainnya di Indonesia?
Meski pada 5
Juli lalu telah dibentuk Satuan Tugas Dana Desa yang diketuai langsung oleh
mantan pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samuel Samad Rianto, tetap
saja dengan segala kerumitan birokrasi anggaran dana desa yang dilakukan oleh
aparat desa yang tidak dilatih serius mengelola dana tersebut, maka peluang
akan terjadinya penyelewangan dan korupsi masih besar. Ini menjadi masalah
utama yang harus kita selesaikan bersama.
Banten, Provinsi
yang sempat menempati posisi ke lima wilayah terkorup di Indonesia, sejauh ini
tampaknya masih aman-aman saja dari fenomena dana desa. Tentu kita pun berharap
segala kebaikan tetap melekat pada tubuh provinsi yang kini dipimpin oleh
Wahidin Halim dan Andika Hazrumi ini. Dengan mengedepankan pembangunan yang
terus dilakukan, Banten siap melaju menjadi provinsi yang berkemajuan.
Namun demikian,
seharusnya kita juga tidak boleh lalai untuk terus memantau dan menjadi
pengingat atas laju pemerintahan. Sikap kritis dan analisis sebaiknya semakin
dipertajam mengingat masih banyaknya wilayah di Banten bahkan di kota dan
Kabupaten Serang yang kondisi infrastruktur jalannya masih jauh dari kata
layak. Ditambah lagi kisah kemiskinan masyarakatnya yang masih saja mewarnai
dunia pemberitaan media lokal di Banten, membuat kita bertanya-tanya, kemana
perginya ya dana desa? Entahlah.
Berbicara
mengenai infrastruktur, mau tidak mau kita harus benar-benar meyakini bahwa
kondisi jalan yang menghubungkan antar kampung ke kampung di Kabupaten Serang
masih buruk. Penulis sendiri kebetulan merupakan relawan Rumah Dunia yang
hampir setiap tahun membantu program kuliah kerja mahasiswa dengan kegiatan
perpustakaan keliling. Lokasi pengabdian mahasiswa yang ditempatkan di pelosok
perkampungan, membuat kami sedikit kesulitan. Hal ini diperparah dengan kondisi
jalan yang sebenarnya tidak layak dilewati oleh kendaraan baik roda dua maupun
roda empat.
Jalan berlubang,
genangan air, tanah licin bebatuan, membuat mobil perpustakaan kami terkadang
sampai tergelincir dan mengeluarkan biaya tambahan jika terjadi kerusakan.
Kalau sudah rusak, tentu akan banyak pihak dirugikan. Selain Rumah Dunia,
program pengabdian mahasiswa tidak akan berjalan, dan yang lebih miris lagi,
harapan anak-anak pelosok kampung yang haus akan buku bacaan menjadi sirna!
Mengutip gagasan
Emha Ainun Najib tentang penguasa dalam hal ini pemerintah di buku Jejak Tinju
Pak Kiyai (Kompas, 2008) mengatakan, Kalau pijam filosofi “Gundul Pacul”:
Pemerintah meletakkan “Bakul” kesejahteraan rakyat di atas kepalanya. Derajat
pemerintah ada di bawah maqam ro’iyah. Tugas mereka mengolah modal
kekayaan negara untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan lahir
batin. Demokrasi adalah salah satu jenis kendaraan untuk mengantarkan
kesejahteraan itu. Pemerintah dilarang “gembelengan”: main-main, sok kuasa,
lupa hakikat demokrasi dan ro’iyah, merasa diri di atas rakyat dan lupa
bahwa rakyat bisa hidup tanpa pemerintah, sementara pemerintah tak bisa ada
tanpa rakyat. Jadi, kalau dalam hal infrastruktur saja pemerintah masih
mengabaikannya, bagaimana mungkin bisa mengantarkan kesejahteraan kepada
rakyat.
Sebagai manusia
biasa, penguasa juga tentu bukanlah mahluk sempurna. Pasti memiliki kekurangan
dan kelebihan dalam menangani tugas kepemimpinan. Oleh karena itu, penulis juga
mencoba berpikir subjektif terkait keunikan-keunikan yang terjadi di masyarakat
kita. Selain pemerintah, sebaiknya kita juga sebagai masyarakat harus
mengoreksi diri. Apakah pola hidup yang selama ini kita jalani sudah bisa
dikatakan baik dan benar, atau jangan-jangan malah tidak baik dan tidak benar.
Tentu kita sendirilah yang bisa menjawabnya.
Maka, sebagai
masyarakat Banten yang terkenal dengan kereligiusitasannya, marilah kita
kembali meneledani pola hidup Rasulallah Saw. Salah satu karakter Rasul yang
patut kita terapkan di kehidupan sehari-hari di zaman kontemporer saat ini adalah
keseimbangan dunia dan akhirat. Seperti
yang termaktub dalam buku Samudera Keteladanan Muhammad karya Nurul H Maarif
(Alvabet, 2017), Rasul mengajarkan kepada umatnya untuk menyeimbangkan
kepentingan dunia dan akhirat, dengan tetap memprioritaskan kepentingan
akhirat. Boleh-boleh saja mencari keduniaan, namun hendaklah hal itu dijadikan sarana
menuju akhirat dan menggapai ridha-Nya.
Semoga kita
termasuk golongan masyarakat yang bisa menyeimbangkan kehidupan dunia dan
akhirat. Sehingga dengan hadirnya dana desa, para pemimpin menjadi amanah atas
tugas yang diberikan, dan rakyat pun akan mengatur pola hidup menjadi lebih terstruktur
dengan tidak terus mengejar dunia tanpa ada kehidupan akhirat di dalamnya.
Kalau sudah demikian, maka sifat konsumtif yang ada pada diri kita
masing-masing baik penguasa maupun rakyat bisa berkurang, dan tentu hal itu
menjadi pemantik hadirnya kesejahteraan.
Penulis
adalah Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten dan Relawan Rumah Dunia
Komentar
Posting Komentar