Sinopsi FTV
 Cinta Sang Guru Olah Raga
Daru Pamungkas

Jam istirahat tiba, para siswa SMA itu lekas menuju kantin. Robi datang membawa minuman untuk Wulan, gadis tomboy berparas cantik yang disukainya sejak lama. Saat berada di depan Wulan, dari belakang Bogar yang berbadan gendut tengah berlari dikejar teman-temannya, ia tidak sengaja menabrak Robi, tumpahlah minuman itu ke baju Wulan. Kesal dengan apa yang dilakukan Robi dan Bogar, Wulan melempar batagor ke mereka yang tengah berlari. Malang nasib Wulan, Bogar dan Robi menghindar, batagor justru mengenai wajah Beni, guru olahraga baru pujaan para siswi.
Beni marah, ia menghukum Wulan, Robi, dan Bogar berdiri di depan kelas dengan satu kaki dan tangan memegang telinga. Kemudian mereka diminta untuk menghadap tembok. Tiba-tiba Bogar mules ingin buang air besar, karena tak tahan, keluarlah kentutnya yang berhasil membuat seisi kelas muak dan kabur keluar ruangan.
Pelajaran olahraga dilaksanakan di lapangan Basket. Beni mencontohkan teknik drible dan melempar bola, decak kagum disertai sorak-sorai siswi mewarnai pelajaran siang itu. Wulan kesal, dia berbeda dari siswi lainnya yang memuja Beni. Kini gilirannya melaksanakan praktik, karena kesal, Wulan melempar bola terlalu keras sehingga mengenai jendela kaca ruangan kepala sekolah.
Di dalam, kepala sekolah yang sedang menyeruput kopi panas pun kaget. Kopi tumpah ke seluruh pakaiannya. Ia berjingkrak-jingkrak karena kepanasan. Tak lama kemudian Wulan dipanggil ke ruangan kepala sekola, ia dihukum membersihkan Toilet selama tiga hari ke depan.
Pulang sekolah Wulan berjalan dengan raut wajah kesal. Datanglah Robi dengan motor bebek modifikasi sendiri. Ia merayu Wulan untuk pulang bersama. Sejak dulu Robi mengejar cinta Wulan tapi tidak pernah ditanggapi. Karena cuaca yang panas dan Wulan ingin cepat sampai rumah, dengan terpaksa akhirnya ia naik motor Robi. Robi merasa bahagia, baru kali ini Wulan mau naik motor bersamanya. Ia pun pamer kepada setiap siswa yang berjalan kaki. Lantaran sibuk bergaya, ia tak memperhatikan jalan, motornya nyemplung ke selokan. Sontak orang-orang menertawakannya. Wulan dan Robi basah kuyup.
Dengan mendorong motor yang ikut basah bersama pakian mereka, akhirnya sampai di rumah Wulan. Terlihat beberapa pekerja yang tengah sibuk memeprsiapkan kain. Ayah Wulan yang biasa disapa Pak Romli adalah seorang pengusaha kain. Wulan masuk ke rumah sedangkan Robi membersihkan dirinya dengan kain-kain yang tergeletak di teras. Kemudian datanglah Pak Romli. Melihat kain dagangannya diacak-acak, ia marah besar dan mengejar-ngejar Robi. Terjadilah kejar-kejaran hingga Robi ngibrit dan kabur dengan mendorong motornya.
Sementara itu Bu Fitri yang tak lain istri Pak Romli dan ibu kandung Wulan, tengah membereskan kain dagangan di Toko. Datanglah Beni memesan kain sekalian dibuatkan kostum sepak bola sekolah. Setelah melakukan pembayaran, seorang jambret merebut laptop di tangannya. Terjadilah aksi kejar-kejaran. Beni meninggalkan ransel dan berkas-berkas di toko Bu Fitri.
Pencuri tertangkap dan digebuki warga pasar. Kemudian Beni kembali ke toko Bu Fitri namun Toko sudah tutup. Ia lekas pulang dan berencana esok akan datang lagi mengambil ranselnya.
Malam itu Romli berbincang bersama istri dan anaknya di meja makan. Bu Fitri menceritakan kejadian siang tadi, seorang guru berseragam olahraga kecopetan dan ranselnya tertinggal di toko. Romli kaget, ia dan Wulan langsung memeriksa isi ransel dan menemukan tanda pengenal pemiliknya. Wulan pun tahu bahwa itu milik Pak Beni, guru olah raga di sekolah. Pak Romli menyuruh Wulan untuk mengantar langsung ransel saat itu juga. Karena kosan Beni dekat dari sekolah, Wulan berangkat naik sepeda.
Wulan masih mencari alamat kosan Beni, di gang sempit ia ditabrak oleh seorang lelaki yang berlari terbirit-birit. Pria berambut gondrong itu ternyata pencopet yang tengah dikejar warga. Apesnya, lelaki itu membawa ransel yang jenisnya sama seperti milik Beni yang dibawa Wulan. Orang-orang menyangka Wulan adalah teman si pencopet, ia pun dikerubungi warga dan hendak dipukuli. Kemudian Beni datang melerai, Wulan menjelaskan tujuannya keluar malam untuk mengantar ransel Beni. Warga pun akhirnya mengerti dan kembali melakukan pengejaran.
Wulan menyerahkan ransel ke guru olah raga yang masih muda dan ganteng itu. Belum sempat Beni mengucapkan terimakasih, Wulan langsung pergi. Beni mengejar dengan sepeda miliknya. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap Wulan. Beni mengiringi laju sepeda Wulan, mencoba mengajak ngobrol gadis berambut sebahu itu, namun Wulan cuek tidak meladeni. Tiba-tiba hujan lebat turun mendadak, mereka berteduh di warung remang-remang dekat pasar. Ketika hujan mulai reda, datang satpol PP menangkap Beni dan Wulan, mereka mengira keduanya adalah pasangan yang akan berbuat mesum.
Jadilah malam itu Wulan dan Beni menginap di kantor polisi. Wulan marah-marah terus, ia merasa hidupnya terkena sial gara-gara kenal dengan Beni. Beni tak terima, ia juga ikutan marah. Keduanya saling adu mulut. Padahal di sekitar sel mereka terdapat banyak narapidana lainnya. Beberapa narapidana kemudian berteriak membentak, Wulan ketakutan memeluk Beni. Beberapa saat ia merasakan kenyamanan, tapi kemudian sadar dan melepaskan pelukannya.
Keesokan harinya, datanglah Pak Romli dan Istri ke kantor polisi karena mendapat laporan bahwa Wulan semalam ketangkap berduaan bersama seorang lelaki. Selain itu, kepala sekolah beserta beberapa guru juga mandapat panggilan dari kantor polisi. Setibanya di kantor polisi, Pak Romli langsung mengeluarkan silat kepada Beni yang duduk di samping Wulan. Beni menghindar, namun Pak Romli terus mengejar. Dan ketika tendangan mautnya keluar, Beni lagi-lagi dapat menghindar, justru tendangan itu mengenai kepala sekolah yang saat itu baru masuk ruangan. Ia pun tersungkur. Setelah dijelaskan oleh Wulan, Pak Romli langsung meminta maaf kepada Beni dan kepala sekolah.
Hari berjalan seperti biasa. Namun kali ini Wulan harus melaksanakan tugas hukuman membersihkan Toilet selama tiga hari ke depan. Karena itu, Wulan datang ke sekolah lebih awal daripada siswa-siswi lainnya. Ia meminta kunci toilet kepada Mang Ujang, penjaga sekolah. Saat semua pekerjaan sudah selesai, lantai bersih, ruangan wangi, datanglah Anggel bersama teman-temannya. Ia adalah wanita sombong dan jahil. Ditendanglah ember berisi air bekas pel di depan mata Wulan. Awalnya Wulan diam saja. Namun ketika Anggel dan genk-nya masuk toilet, Wulan mengunci mereka dari luar dan melangkah pergi dengan bersiul puas lantaran dendam terbalaskan. Siangnya Wulan lagi-lagi dipanggil kepala sekolah. Di sanalah ia baru tahu kalau Anggel adalah anak kandung sang kepala sekolah.
Akibatnya, Wulan dihukum berdiri di tengah lapangan. Terik panas matahari membuatnya berkeringat. Namun kemudian Beni datang membawa minuman. Awalnya Wulan cuek, tapi kemudian setelah dirayu, ia meminumnya juga. Lalu mereka duduk di bawah pohon mangga. Beni memperhatikan Wulan dan ia baru sadar ternyata gadis tomboy itu cantik juga. Keringat di dahi Wulan diusap Beni dengan sapu tangan. Wulan gugup. Dari jauh, Anggel melihat kejadian itu, ia geram, selama ini ia yang mengejar-ngejar Beni, tidak pernah mendapat perlakukan seperti itu.
Selain jago main basket, Beni juga jago sepak bola. Kepala sekolah pun menunjuk Beni menjadi pelatih tim sekolah yang akan mengikuti ajang kompetisi antar sekolah se-Kabupaten. Oleh karena itu, ia melakukan seleksi untuk menunjuk sejumlah pemain yang akan menjadi tim inti sekolah. Seleksi pun dilakukan dan Robi menjadi salah satu pemain yang terpilih.
Tibalah jadwal pertandingan melawan tim dari SMA lain. Pertandingan ini sangat penting karena memperebutkan tiket masuk mengikuti kompetisi. Waktu pertandingan beberapa jam lagi akan segera dimulai. Namun kostum yang dibuat Pak Romli belum juga selesai. Beni kemudian meminta pemain untuk berangkat terlebih dahulu ke lapangan, sedangkan ia pergi ke rumah Pak Romli untuk mengambil kostum. Di sana Pak Romli dan Wulan kalang kabut mempersiapkan kostum yang akhirnya jadi juga. Mereka langsung menuju lapangan, karena tidak ada kendaran, bajaj yang terparkir di pinggir jalan pun dibawa Pak Romli. Beni dan Wulan duduk di belakang. Sedangkan sang supir yang tengah buang air kecil mencoba mengejar sambil berteriak maling, namun tidak berhasil.
Bajaj sampai di parkiran lapangan. Beni dan Wulan berlari membawa kostum. Para pemain dan penonton tegang menanti datangnya kostum karena beberapa menit lagi wasit akan meniup peluit tanda diskualifikasi. Ketika mereka masuk ke lapangan, sorak-sorai penonton menyambut bagaikan datangnya dua orang pahlawan perang. Pertandingan pun dimulai.
Babak pertama telah usai, skor masih 0-0. Di waktu istirahat itu, Anggel mendekati Beni, ia memanas-manasi Wulan dengan mengelap keringat di dahi Beni dan memberikan sebotol minum. Wulan yang melihat kejadian itu ternyata terpancing. Ia cemburu pertanda sudah ada cinta di hatinya. Untuk membalasnya, Wulan melakukan hal yang sama kepada Robi. Sambil senyum-senyum palsu, ia mengelap kening Robi dengan tanaga yang kuat sehingga terlihat seperti orang yang sedang ditoyor kepalanya.
Babak kedua dimulai. Di akhir menit pertandingan, Robi mencetak gol. Pak Beni yang tadinya berdiri di samping Anggel, melakukan selebrasi sambil berlari ke arah Wulan. Mereka pun saling berpelukan. Sedangkan Anggel yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya, tidak menyadari bahwa di sampingnya telah berdiri seorang Bogar. Ia mengira Bogar adalah Beni. Mendengar sorak sorai penonton, Wulan lekas memluk Bogar. Bogar keenakan dipeluk Anggel, ia membalas pelukannya. Tapi kemudian Anggel sadar dan mendorong bogar hingga terjatuh. Penonton pun ikut tertawa.
Setelah gol itu, wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Kemenangan didapatkan. Para pemain kemudian merayakan kemenangan dengan mengangkat Beni dan Wulan. Mereka mengarak keduanya sampai ke tengah lapangan. Beni dan Wulan diturunkan. Saat itu Beni memegang lengan Wulan, dengan terbata-bata, ia mengungkapkan perasaan, Wulan tersenyum malu, mereka pun berpelukan. Anggel dan Robi yang melihat peristiwa itu hanya cemberut dan merutuki keadaan.


Selesai. 

Komentar