Kidung Shalawat dan Kebangkitan Literasi di Banten
Oleh Haidaroh

Di tengah kemerosotan akhlak serta akidah generasi muda bangsa yang kerap kali kita saksikan di televisi maupun di media lainnya dengan berbagai kasus kriminal seperti Tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, seks bebas, kerusuhan Genk motor, kekerasan mental (Buli), bahkan sampai narkotika. Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gema Seni Budaya Islam Kampus (Gesbica) UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, menciptakan anomali  dengan menggelar acara musik yang bernuansa Islami dengan tema Kidung Shalawat, doa dalam lantunan. Rabu, 03 Mei 2017.
Acara yang dilaksanakan di Lapangan Syariah Kampus 1 UIN Banten itu berlangsung cukup meriah, meski hujan sempat membasahi lokasi acara, namun penonton yang notabene mahasiswa dari berbagai kampus di Banten itu setia menantikan lantunan shalawat yang ditampilkan oleh Gesbica.
Ikhfal Wahyudin, ketua umum Gesbica periode 2017 dalam sambutannya mengatakan bahwa Gesbica mengajak kepada semua pemuda khususya mahasiswa untuk kembali melestarikan tradisi shalawatan yang dulu sering bergema di masjid-masjid kampung dan di masyarakat secara menyeluruh, “Bershalawat merupakan anjuran agama Islam untuk mendekatkan diri kepada baginda besar Muhammad SAW. Hal ini dipertegas dalam surat Al-Ahzab ayat 56, Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah dan para Malikat-Nya bersholawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya,” Oleh karena itu, dengan pementasan Kidung Shalawat ini, mari kita merawat tradisi shalawatan seperti yang dahulu sering dilantunkan oleh orang tua kita.”
Dalam wantu yang berebda, tepatnya satu hari sebelum Acara Kidung Shalawat ini dilaksanakan, pada Selasa 02 Mei 2017, ketua umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia yang merupakan warga Banten yaitu Firman Hadiansyah bersama para pegiat literasi, diundang secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia Jokowi Dodo untuk memperingati hari Pendidikan Nasional di Istana Negara-Jakarta, bersama menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, Muhajir Efendi.
Dalam perjumpaannya bersama presiden hari itu, para pegiat literasi melayangkan delapan bulir pesan literasi untuk presiden, seperti yang dilansir Detik News.com, kedelapan bulir pesan literasi itu antara lain: 1. Pemerintah mengoptimalkan ketersediaan dan akses buku yang merata sampai ke desa-desa dan daerah terpencil. 2. Gerakan Literasi hendaknya menjadi gerakan nasional. Untuk itu, kami mendorong Presiden untuk mengeluarkan sebuah Instruksi Presiden (Inpres) terkait literasi agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk pemerintah/aparat desa, berperan serta aktif dalam mendukung dan mengembangkan gerakan literasi serta bersinergi dengan para pengelola TBM dan pegiat literasi di setiap daerah. 3. Mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi khusus yang memungkinkan agar harga buku bisa menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas, seperti penghapusan pajak untuk komponen-komponen yang terkait dengan buku serta regulasi khusus untuk biaya pengiriman buku hingga ke daerah-daerah. Juga upaya untuk mendirikan toko-toko buku kecil di daerah-daerah.
4. Pemerintah mendorong penerbitan buku-buku yang berkaitan dengan penumbuhan budi pekerti dan nilai-nilai integritas oleh berbagai pihak, termasuk penerbit, agar Indonesia bisa menciptakan generasi muda yang kelak dapat menjadi pemimpin yang tangguh dan berkarakter, terbebas dari korupsi dan penyakit-penyakit sosial lainnya. 5. Mengoptimalkan layanan perpustakaan dan pusat layanan pengetahuan masyarakat di ruang-ruang publik dan fasilitas umum, agar memudahkan warga negara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi yang bisa meningkatkan kecakapan hidup sebagai pembelajar sepanjang hayat. 6. Mendorong BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta mengalokasikan dana CSR untuk pengembangan konten program literasi dan pengadaan buku bagi Taman Bacaan Masyarakat dan Perpustakaan Sekolah di tanah air.
7. Mendorong perusahaan penerbitan memberikan donasi buku kepada TBM serta komunitas literasi dan menjadikan donasi buku dari penerbit ini sebagai faktor pengurangan pajak perusahaan penerbit. 8. Presiden memberikan penghargaan/apresiasi kepada pemerintah daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota yang terus berupaya dalam mengembangkan gerakan literasi di daerahnya secara berkelanjutan.
Dua Kunci Pintu Peradaban
Tak bisa kita pungkiri bahwa kedua peristiwa besar itu merupakan bagian dari sejarah penting masyarakat Banten di era kontemporer saat ini. Bagaimana UKM Gesbica mengkonsep sebuah acara bertemakan Kidung Shalwat yang di dalamnya tersimpan makna yang amat mendalam terkait ajakan untuk menarik kembali jati diri Banten yang sesungguhnya. Di sisi lain, diundangnya Firman Hadiansyah oleh Presiden RI tentu menumbuhkan kebanggan tersendiri khusunya bagi pegiat literasi di Banten dan umunya masyarakat Banten secara keseluruhan. Maka, bukan merupakan satu kekeliruan saya kira jika kita menaruh harapan besar bagi kedua element kebudayaan ini, yaitu kesenian dan literasi sebagai dua kunci pintu peradaban.
Jika kita berkaca pada Beirut, ibukota Lebanon yang dahulu kerap dikutuk sebagai salah satu ibukota yang paling rajin memproduksi teror dan kekerasan di Kawasan Samudra Pasir, setelah terpilih sebagai ibukota buku dunia (World Book Capital) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), kini menjelma menjadi kota buku paling semarak tahun 2009. Dalam setahun, sejak 23 April 2009 sampai 23 April 2010, ada sekitar 120 kegiatan kebudayaan dilaksanakan. Di sana pelbagai ajang perbukuan dipertontonkan. Seperti konferensi internasional aktivis buku dan kebudayaan ikhwal konflik Arab-Israel, training perpustakaan dan seminar taman bacaan, dialog audiobooks untuk kalangan buta, dunia penerjemah Beirut, akar dan perkembangan pers, buku anak, festival puisi dan prosa, festival akbar seni rupa, patung, musik, seni video dan seterusnya. Dengan kegiatan seperti ini, maka perdamaian di Beirut pun tercipta, hingga saat ini dijuluki sebagai Kota Literasi Dunia. (Muhidin M Dahlan, Seratus Catatan Dibalik Buku, I: BOEKOE, Jogjakarta, 2009)
Banten dengan potensi keragaman budaya serta kesenian dan adat istiadat yang luar biasa, saya kira bisa menjadi provinsi yang mampu mencapai puncak peradaban. Oleh sebab itu, harus memaksimalkan fungsi serta mafaat dari literasi dan kesenian itu sendiri bagi masyarakat. Cara yang mungkin bisa ditempuh sebagai gambaran dari apa yang dilakukan ole Beirut di atas, setiap 23 April yang merupakan peringatan hari buku Internasional atau bisa juga berkenaan dengan akan diperingatinya hari buku nasional yang jatuh pada 17 Mei 2017 mendatang, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Provinsi Banten bersinergi dengan Dewan Kesenian Banten (DKB) untuk membuat program yang melibatkan seluruh pegiat literasi dan seluruh pegiat kesanian dalam satu acara yang dilaksanakan selama satu minggu atau lebih, yang mana kegiatan ini berlangsung rutin setiap tahunnya. Sehingga, masyarakat yang dalam kesehariannya disibukkan dengan kegiatan formal seperti di kantor, kampus, dan yang lainnya, bisa menikmati pertunjukan serta acara yang sifatnya non formal yang menghibur, namun tetap berbau pendidikan dan berdifat rekreatif. Dengan demikian, tanpa sadar, kita telah memupuk impian menuju kegemilangan suatu peradaban!

Penulis adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten dan aktif di Rumah Dunia.





Komentar