Langsung ke konten utama
#2Perahu Warga
mulai berkumpul di tepi sungai. Sekadar senyum untuk saling menyapa antar
keluarga, menjadi penghangat di tengah dinginnya malam. Ke mana mata memandang,
di sana hanya ada obor-obor yang menerangi gelap yang riuh oleh suara-suara
orang yang akan menjumpai penunggu sungai. Dalam sekejap, hening tercipta tatkala
sang kakek tua dengan tungku kemenyan di kedua tangannya tiba ditemani oleh Pak
Kades. Dari atas jalan, beberapa pengawal mendampingi langkah sang kakek menuju
tepi sungai. Semua mata tertuju padanya, meneliti setiap gerak-gerik sang
pemandu ritual.
kabarnya, sang kakek sudah berusia lebih dari seratus
tahun, namun langkahnya masih kuat dan tatap matanya menyorotkan kengerian
suasana sungai di tengah malam. Hidupnya hanya sendiri, semenjak kematian istri
dan kedua anaknya karena terbawa arus sungai citarum, ia memilih menjalani
hari-harinya jauh dari keramaian. Konon, dahulu ia bersama guru spiritualnya
mengikat janji dengan siluman buaya putih agar hasil panen masyarakat setempat
selalu bagus dan mendapat untung yang melimpah.Dengan begitu, ia pun akan mendapat banyak hadiah
dari warga berkat jasanya yang telah membantu para petani. Untuk mewujudkan hal itu, ada
syarat yang harus dipenuhi. Setiap malam bulan purnama, sang penunggu sungai
harus diberikan sesajen satu ekor kambing hitam dan lima ekor ayam kentamani.Perjanjian pun disepakati. Warga memulai hari
seperti biasa, menggarap padi hingga terik matahari datang untuk setia
menemani. Di tiga bulan pertama, padi sudah mulai tumbuh hijau. Perairan pun
mengalir sesuai dengan kebutuhan setiap hektar sawah. Hilangnya hama secara
menyeluruh membuat biaya produksi petani mengurang. Dan tepat di musim panen,
warga berpesta, hasil padinya bagus dan untung besar. Hal itu berlangsung
selama hampir di setiap musim panen tiba.Hingga suatu hari, warga mulai terlena dan melupakan
persyaratan yang harus terpenuhi terhadap sang penunggu sungai. Di samping itu,
wabah flu burung mulai merebak. Ayam-ayam milik peternak mati secara bersamaan
di waktu yang tak jauh berbeda. Malam itu hanya si kakek tua yang datang
mengumpulkan sesajen, ia hanya membawa satu ekor kamping. Tidak dengan lima
ekor ayam kentamani. Sang penunggu sungai pun murka.Keesokan harinya, di kala ia duduk di tepi sungai. Air
tiba-tiba meluap, menghantarkan arus pada kekuatan yang tak terhingga. Dari
kejauhan di ujung sana, kedua tangan seorang anak yang ditemani ibunya melambai
ceria padanya.“Bapak, bapak, dadah!”Sang kakek tua tak bisa berbuat banyak, ia berteriak
agar si tukang perahu melihat apa yang terjadi pada sungai dan lekas naik ke
daratan. Namun air nampaknya tak mau berkompromi, perahu terjungkal, tali
penghubung antara kedua daratan pun terputus. Kakek tua berlari, mencari istri
dan kedua anaknya, namun semua telah hilang dalam genangan sungai yang perlahan
mereda.Semenjak kejadian itulah, kakek tua memutuskan untuk
tinggal jauh dari sungai. Ia mendirikan gubug di tengah sawah, bergumul dengan
belalang, tikus dan ular. Sesekali Pak Lurah bersama warga mengantar makanan
untuknya, namun tak jarang ia tidak memakannya, membiarkan makanan itu membusuk
dimakan oleh cacing dan ulat. Cerita belum usai, satu bulan kemudian semenjak
kematian istri dan kedua anaknya, kakek tua kembali berduka. Sang guru
spiritual yang sudah lebih dari setengah abad menemaninya mempelajari berbagai
macam ilmu hitam, ditemukan tak bernyawa dengan mulut mengeluarkan belatung dan
bercucran darah di pinggir sungai.***Diantara lahan tumbuhan yang ditanam di pinggir
sungai, warga membuat tempat khusus untuk ritual. Tanah lapang mirip lapangan
sepak bola, malam itu penuh disesaki oleh warga. Tangan sang kakek tua
mengangkat ke atas dan turun secara perlahan hingga dada. Serentak, semua orang
duduk dengan khidmat.Asap mengepul di sisi sungai. Mantra-mantra mulai
samar-samar terdengar, semakin lama semakin jelas suaranya, namun tak bisa
dipahami. Dengan hembusan angin yang perlahan merindingkan bulu kuduk, ada
sesuatu yang bergerak di air. Seperti memutar namun tak beraturan. Bergolak dan
bermuncratan. Semua mata tertuju pada sungai, sejenak, sang pemimpin ritual
menghentikan mantranya. Berdiri dan membuka mata. Seperti hendak menyapa
sesorang, sang kakek tua itu mencelupkan darah ayam ke air, sungai pun menjadi
tenang.Semua hening, meresapi fenomena air yang baru saja
terjadi. Sebuah keanehaan namun dapat dilihat dengan nyata. Orang-orang saling
pandang dan mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh sang
kakek. Dengan suara yang tak terlalu keras namun mengandung ketegasan dalam
serak tenggorokannya, sang kakek tua mengomandoi semua orang untuk
mengikutinya.“Wahai sang penunggu sungai// kami sediakan
sesembahan untukmu// atas kebaikanmu yang telah membantu hasil panen kami//
Sesuai persyaratan yang kami janjikan// terimalah sesembahan ini dan tetap
berikan kami kebaikan”
Serentak semua warga melangkah ke dekat sungai untuk
menaruh nampan mereka masing-masing.Upacara usai, kaki-kaki renta melangkah meninggalkan
sungai. Sedikit rasa kantuk tak membuat mereka malas untuk melakukan rutinitas
ini setiap bulan purnama.“Hayu, pak. Kasian Hafez sendirian di rumah”“Iya bu, bapak juga pengen cepet pulang. Lapar!”“Tapi, di rumah gak ada apa-apa, pak”“loh, emang tadi ibu ga misahin buat kita?”“Tadi kan bapak beli ayamnya cuma satu. Kalo
dipisahin buat makan juga, kan sesajen kita sedikit. Malu sama orang, Pak.”Pak Kasmin memalingkan wajahnya. Nafasnya terdeham
mencoba untuk memahami situasi. Kedua pasang suami dan istri itu berjalan
menembus dinginnya malam bersama puluhan warga lainnya. Di bawah terang bintang
dan rembulan itu, kabut sudah mulai menyelimuti daun-daun pepohonan.Suara kodok dan jangkrik yang saling bersahutan,
memberi kenangan yang tak mampu dilupakan pada kampung yang jauh dari hingar-bingar
kehdupan kota. Hafiz, remaja kampung yang memiliki impian jauh melewati
teman-teman seusianya, tertidur di atas kata-kata dalam buku kumpulan artikel
berstampel logo sekolah yang hampir tuntas dibacanya.Bulan menghilang dari peredaran, perlahan, terang
mulai mendominasi langit di ufuk timur. Embun yang dingin tak menyurutkan
langkah Hafiz menuju kolam untuk berwudhu. Setelah bersuci, Hafiz lekas menuju
kamar. Ada bunyi yang keluar, ia memegang perutnya. Terasa nyeri yang melilit.
Ah, di meja belum ada makanan.Ia lekas salat subuh. Sedangkan kedua orang tuanya
masih terlelap tidur. Setiap setelah melakukan upacara seserahan, mereka selalu
saja bangun kesiangan. Ibu yang biasanya selalu bangun lebih awal, pagi itu tak
mampu mengendalikan letihnya bergadang melebihi separuh malam. Setelah salat,
Hafiz mengaji sejenak. Kebiasaan mengaji telah dilakoninya semenjak kematian
mendiang kakeknya, Haji Juari. Sang kakek dahulu adalah ustad di kampung
tersebut, tak ada kegiatan ibadah yang dilewatinya setiap hari, baik kepada
sang khalik maupun pada masyarakat sekitar. Termasuk kebiasaan mengaji setiap
subuh.Hafiz mendengar suara seseorang di dapur, ia lekas
menutup alquran. Kursi sepeti bergetar, rak lemari penyimpanan piring bergeratakan
seperti ada yang meraih sandaran. Ia lekas melangkah, berjalan seperti orang
sedang menelisik sesuatu, dibukanya gorden penghalang dapur dan ruang tengah.
Matanya memutar di sekeliling ruangan, tak ada siapa pun di sana. Namun, ah, tubuh
wanita tua renta itu tergeletak di lantai dapur.“Bu, ibu.... Kenapa bu?”“Pak, bapak!” teriaknya memanggil pak Kasmin.Matanya terpejam, bibirnya pucat pasi. Tubuh
rentanya hangat tak berdaya. Hafiz mengankat kepalanya, tak lama kemudia sang
ayah langsung menghampiri.“Fiz, buatkan teh pahit hangat!”“Iya, pak!”Di ruang kamar dengan sawang laba-laba menghiasi pojok
atas tembok, bu Eti terbaring lemas di kasur lusuhnya. Matahari sudah mulai
terang, Hafiz tak lekas bergegas mengenakan seragam sekolahnya. Melihat sang
ibu terbaring lemas tak berdaya, ia berniat untuk tak masuk hari ini.“Pak, biar Hafiz yang jaga ibu di rumah!” “Jangan, Fiz.
Kamu harus sekolah, kan katamu hari mau ujian!”Terdengar suara perempuan paruh baya itu dengan
sedikit terbatuk.“Iya, Fiz. Nanti berangkat sama bapak sekalian beli
obat untuk ibu. Tini, kamu jaga ibu dulu, ya!” Pak Kasmin menengahi.Matahari malu-malu
menunjukan sinarnya. Bagi orang yang tinggal di tepi sungai, pagi adalah saat
yang indah untuk merenungi sendi kehidupan seperti air yang mengalir begitu
tenang. Di saat tertentu, lajunya bisa berubah kencang bila ada sesuatu yang
memotivasinya untuk deras mengalir, bahkan bisa menghanyutkan siapapun dan
apapun yang ada di hadapannya. Sungai adalah filosofi terindah dari kehidupan.
Hadirnya tidak pernah tidak memberikan manfaat bagi semua mahluk di bumi. Baik
yang di air itu sendiri, maupun yang di daratan.Pak Kasmin dan Hafiz
bergegas meninggalkan rumah, mereka berjalan layaknya ayah dan anak yang tidak
begitu lancar berkomunikasi seperti antar sesama teman. Pak Kasmin lebih banyak
diam, tatap matanya meneropong jauh ke jalan. Hafiz hanya memandangnya kagum.
Sosok seorang ayah yang tak pernah berhenti untuk terus berusaha memberikan
yang terbaik untuk keluarga tercinta.Bersama ibu, ayah
selalu mencoba untuk tersenyum meski nyatanya ia menangis. Selalu berusaha
untuk tertawa meski nyatanya ia bersedih. Di depan kedua anaknya, mereka tak
pernah menunjukan kegelisahannya di kala situasi yang seharusnya mereka
lampiaskan di depan mata kedua buah hatinya. Dari
rumah, setelah menempuh jarak sekitar 100 meter, mereka sampai di perahu untuk menyebrangi
sungai Citarum. Sekolah Hafiz memang terletak di seberang sungai. Dalam tata
kelola wilayah, sekolah Hafiz masuk ke daerah Karawang. Sebenarnya juga ada
sekolah di daerah Kabupaten Bekasi, namun jaraknya yang sangat jauh dari rumah
Hafiz, membuat ia memilih untuk bersekolah di seberang sungai.Dari jarak seratus meter menuju perahu. Ayah dan
anak itu berhenti sejenak sebelum melewati jalan menurun menuju perahu.
Sepersekian detik kemudian beberapa kendaraan roda dua mengekor di belakang.
Suara kenalpot motor memperiuh suasana.“Tarik tarik! Angkat papannya!” tukang perahu mulai menurunkan papan untuk lintasan
motor ke atas perahu.Perlahan, Pak Kasmin berjalan dengan menahan laju
sepedanya agar tidak terlalu cepat melebihi langkahnya. Hafiz dengan kedua
tangannya memegangi jok belakang sepeda, membantu ayahnya agar tidak terjatuh.
Mereka pun sudah berdiri di atas perahu.“Pak, kedepanan sepedanya. Di sini buat motor!”
perintah salah seorang tukang perahu yang bertugas mengatur muatan.Perahu sudah agak sesak oleh motor. Tali pengait
sudah dicabut, papan lintasan pun sudah diangkat. Sang pemandu mengomandoi para
tukang perahu yang berjumlah lima orang itu untuk bersiap. Tiga orang berdiri
di depan, tengah dan belakang perahu untuk menarik tali besi yang terhubung antara
ke dua daratan. Satu orang memegangi tali tampar seukuran lengan balita untuk
mengatur arah perahu agar tidak miring mengikuti arus. Satu orang lagi menarik
uang bayaran kepada para penumpang.Perahu sudah mulai bergerak. Tak terduga seorang
tukang berteriak dari belakang.“Stop.. stop… stoooop!”“Kenapa, Dang?”“Ada Pak Lurah mau naik!”Disertai dengan hembusan nafas beberapa penumpang
yang juga melihat ke jam tangannya, perahu ditarik ke belakang. Kembali
menurunkan papan lintasan. Beberapa motor di geser untuk memberi jalan kepada
Pak Lurah. Beberapa penumpang mencoba untuk menunjukan senyumnya, seolah
menghormati pemimpin mereka.“Selamat pagi Pak, Bu! Sapanya.“Mau kemana, Pak Lurah? Tanya seorang ibu.“Anter anak, sekalian mau lihat-lihat sawah, habis
itu saya harus balik lagi ke kantor. Mau ada tamu penting!” ucapnya sambil
memajukan kepala dan mulutnya.“Wah sibuk ya, Pak Lurah!”Pak Lurah Hanya tersenyum, kemudian mengobrol dengan
para tukang perahu.“Eh gimana, lancar?”“Alhamdulillah lancar, Pak!”“Hafiz!”Pak Kasmin dan Hafiz menengok ke belakang, tak
menyangka bahwa Mia menyapa mereka. Sebenarnya dari tadi mereka sudah melihat
keberadaan Mia dan ayahnya, namun apalah daya, mereka tak bisa berbuat banyak
tentang hal ini. ada semacam keraguan untuk menyapa, keraguan yang mungkin bisa
dirasakan oleh orang-orang yang merasa tak memiliki kuasa atas kehendak dirinya
sendiri. Ah, apalah yang harus dilakukan? Sedikit anggukan dan senyum simpul
adalah cara teraman untuk mengawali pertemuan pagi itu.Mia juga tersenyum, tak hanya untuk Hafiz dan Pak
Kasmin, tapi juga untuk ayahnya yang mematung di sisinya. Mereka bagaikan dua
patung yang memiliki kepribadian tertutup, sama-sama saling pandang,
menginginkan sebuah percakapan, namun keadaaan antar kedua status yang
memisahkan kehangatan yang seharusnya sudah terjalin sejak pandang pertama.“Apa kabar Pak Lurah?” Pak Kasmin mencoba mencairkan
suasana.Namun hanya sebaris senyum yang keluar di bibir Pak
Lurah serasa melihat setiap jengkal tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut
kedua orang yang baru saja disapa oleh anaknya itu.Perahu sampai di seberang, papan diturunkan dan
motor-motor sudah mulai dinyalakan mesinnya. Gerung suara kenalpot riuh
mendominasi suara alam. Sebelum naik ke atas, Pak lurah sempat membisiki kuping
Mia. Entah apa yang ia katakan, Hafiz dan Pak Kasmin berusaha elupakan dan
bersikap tak peduli akan hal itu meski sebenarnya menyimpan banyak pertanyaan. xxx
Komentar
Posting Komentar