Rumah Dunia dan Kisah Heroiknya

Oleh Daru Pamungkas

Ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Banten, banyak orang mengira saya akan mendaftarkan diri sebagai santri di pondok pesantren. Yah, Banten memang terkenal dengan kerelijiusannya dengan sekian banyak yayasan pendiikan agama Islam. Bahkan, ketika orang bertanya di mana saya sekolah, lalu saya menjawab di Banten, orang itu akan langsung menaruh hormat dan menganggap saya sudah memiliki ilmu kebal, silat, santet dan sejenisnya.
Padahal tidak demikian, yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah jawara ini adalah niat meraup ilmu sedalam-dalamnya. Tepatnya tahun 2013, saya memutuskan hijrah dari Sukatani Kabupaten Bekasi ke Kota Serang-Banten untuk kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten. Saat itu kebetulan sedang banyak mahasiswa berdemo menuntut diturunkannya gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, yang terbukti korupsi oleh KPK.
Kalau boleh jujur, sebenarnya waktu itu saya agak sedikit kecewa dengan Banten. Angan-angan akan dunia pendidikan yang ketat persaingan, tidak saya temukan di sini. Hal itu ditambah dengan sedikitnya mahasiswa yang membaca buku. Secara tidak langsung, itu membuat saya kembali ke masa lalu, dunia yang tidak pernah sekali pun memegang buku, dunia yang nol literasi. Yah, sejak kecil, saya adalah pedagang di pasar Bancong-Sukatani yang setiap hari bergelut dengan debu, panas matahari dan hujan.
Kegiatan saya sebagai mahasiswa terkesan monoton, kuliah-kosan, kuliah-kosan, hingga datang seorang teman mengajak saya belajar menulis di Rumah Dunia. Saya pun bergabung di kelas menulis Rumah Dunia angkatan 23. Ketika pertama kali datang, nuansa damai dan kekeluargaan langsung saya rasakan. Tidak ada kaderisasi apalagi intimidasi terhadap orang yang bukan asli Banten. Di sini, semua bebas berkreasi dan bersaing meraih prestasi.
Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata. Begitulah Tagline Rumah Dunia seperti yang terpampang di halaman depan areal komunitas literasi tersebut. Diresmikan pada 3 Maret 2002, Rumah Dunia memiliki sejarah yang panjang dalam perjalanannya. Rumah Dunia bukanlah keinginan satu malam. Rumah Dunia sudah menjadi obsesi Gol A Gong sejak usia muda (1982). Kehendak itu dikolaborasikan dengan teman-teman SMA-nya: Toto ST Radik dan Rys Revolta (alm). Bersama mereka, pada awalnya Gol A Gong mendirikan organisasi kepemudaan yang diberi nama Cipta Muda Banten (1989). Saat itu, ia juga didukung sahabat-sahabatnya yaitu Roni Chaeroni, Toni Bule, Edi Setiady, Redni Arifin, Romli Taufik Rohman, Andi T. Trisnahandi, Maulana Wahid Fauzi dan Mhaex Rangkuti. Namun organisasi Cipta Muda Banten tidak bertahan lama, Gong pun harus memutar otak untuk membentuk organisasi baru.
06 Januari 1998, hari itu Gol A Gong sedang menemani istrinya, Tias Tatanka yang baru melahirkan anak pertama mereka, Nabila Nurkhalishah Harris di Klinik Bersalin Neglasari, Serang. Di sana Gong menyaksikan banyak ibu yang melahirkan, saat itulah inspirasi itu datang. Ia berkata kepada istrinya, “Klinik ini tempat di mana manusia pertama kali melihat dunia. Artinya ini adalah Rumah Dunia, tempat para bayi pertama kali melihat dunia.” Begitu Gong beranalogi.
Sejak saat itu, Gong sudah menerka-nerka nama yang akan menjadi gelanggang remaja idamannya. Kemudian pada tahun 2002 bersama Tias Tatanka, Toto ST Radik, Rys Revolta (alm) mendikian Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia. Andi, MW Fauzi dan Abdul Malik turut mendukung mereka. Dengan visi “Membentuk dan mencerdaskan generasi baru yang kreatif dan kritis di Banten lewat dunia baca-tulis”, Rumah Dunia terus menyebarkan semangat literasi untuk masyarakat. Pada awal diresmikannya, Rumah Dunia bertempat di areal seluas 1000 m2 (Milik pribadi di halaman belakang rumah Gol A Gong).
Rumah Dunia berlindung di lini sosial yayasan Pena Dunia berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006 pada 12 Juni 2006. Rumah Dunia disebut sebagai Learning Centre, pusat belajar jurnalistik, sastra, menggambar, teater, musik dan film bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa bahkan umum yang berlangsung sejak 2002. Di halaman sekitarnya, terdapat beberapa fasilitas penunjang segala aktivitas seperti panggung serba guna (Untuk ragam diskusi dan pementasan), perpustakaan, ruang secretariat, mes relawan, Pendopo Kaibon, Café Solidarnos Rumah Dunia, Mushala, teater terbuka, auditorium Surosowan dan lapangan badminton terbuka. Pada tahun 2008 Rumah Dunia melakukan penggalangan dana baik di dunia nyata maupun media sosial seperti facebook untuk membebaskan tanah seluas 3000 m2[1]
Dengan semangat gotong royong relawan dan bantuan para donatur, Rumah Dunia menjadi sanggar sastra terbesar di Kota Serang. Hingga pada tahun 2010, Rumah Dunia mendapat penghargaan sebagai TBM Kreatif dari Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia sebagai pusat pendidikan masyarakat nonformal yang bergerak di bidang jurnalistik, sastra, teater, seni rupa, dan film. Dan pada tahun 2011, Rumah Dunia tidak lagi menempati areal di halaman belakang rumah Gol A Gong, tapi di areal seluas 3.000 m2, persis di depan jalan Kampung Ciloang, Kelurahan Sumur Pecung. Komplek Hegar Alam 40, Serang-Banten.[2]
Sebagai taman bacaan masyarakat yang bergerak di bidang tulis menulis, Rumah Dunia memiliki program unggulan yaitu program kelas menulis Rumah Dunia. Program kelas menulis ini sudah dilaksanakan sejak awal berdirinya Rumah Dunia tahun 2002.
Karena masih awal berdiri, program kelas menulis ini tidak memungut biaya alias gratis. Pesertanya pun umum, baik dari masyarakat Banten maupun masyarakat luar Banten. Namun Gol A Gong lebih mengutamakan program kelas menulis ini untuk anak muda. Gong memiliki keinginan agar budaya menulis dan kitis dimiliki pemuda Banten untuk melawan emage golok dan santet yang begitu melekat dengan Banten. Selain itu, Gong juga berambisi dengan pena sebagai senjatanya, para peserta kelas menulis ini bersama-sama untuk melawan penguasa korup.
Hal ini diperkuat dengan terciptanya kredo dari Toto ST Radik yang mengatakan, “Simpan Golokmu, Asah Penamu” Bersama Toto dan Tias Tatanka, Gol A Gong berjuang mendirikan Rumah Dunia dengan terus mengulirkan kegiatan kelas menulis. Waktu pelaksanaan program ini yaitu setiap Minggu, pukul 14.00 sampai 17.00 WIB.
Jangka waktu pembelajaran kelas menulis ini sampai enam bulan. Jika sudah enam bulan pembelajaran, maka sudah habislah angkatan pertama. Kemudian dilanjutkan pembukaan angkatan selanjutnya. Materi yang diajarkan dalam kelas menulis ini tentu saja berbagai bidang ilmu kepenulisan. Peserta kelas menulis mendapat materi jurnalistik, esai/artikel, cerita pendek, skenario film dan novel. Di akhir masa penghabisan kelas menulis ini, peserta ditugaskan untuk membuat buku kumpulan cerita pendek karya mereka. Dari program kelas menulis ini juga, Gol A Gong merekrud relawan untuk menjalankan roda organisasi Rumah Dunia.
Terkait tenaga pengajar, kelas menulis ini ditutori langsung oleh Gol A Gong. Dengan dibantu juga oleh Tias Tatanka dan Toto ST Radik, program kelas menulis ini berjalan rutin setiap Minggunya. Seiring berjalannya waktu, para peserta kelas menulis yang sudah lulus dan menciptakan karya baik cerita pendek, esai/artikel, puisi dan novel, ditugasi juga untuk mengajar di kelas menulis. Mereka yang sudah diperbolehkan mengajar adalah orang yang sudah punya karya, dalam hal ini ada beberapa nama seperti Firman Venayaksa, Rahmat Heldi HS, Hilal Ahmad, Langlang Randawa, Ahmad Wayang, Rizal Fauzi, Aji Setiakarya dan Ade Jaya Suryani.
Dari kelas menulis inilah kemudian saya menempa diri, meraup pengetahuan tentang dunia kepenulisan, menjadi pembelajar yang siap menerima kritikan dari karya yang saya tulis. Semua berjalan dengan proses yang baik. Dibarengi dengan konsistensi membaca buku-buku sastra yang tersedia di Rumah Dunia, saya mencoba masuk ke dalam lingkungan para relawan yang selalu haus pengetahuan. 
                Dan pada tahun 2014, saya diangkat menjadi relawan oleh Gol A Gong. Menjaga dan merawat Rumah Dunia menjadi tugas pokok saya setiap hari. Dengan menyapu, mengepel, menyiapkan kursi untuk peserta di acara tertentu, membuat saya menjadi sadar, jiwa kerelawanan itu adalah dasar dari terciptanya benih kepemimpinan. Rumah Dunia memberi saya banyak protein kehidupan, mulai dari segi jasmani dan rohani, sampai segi wawasan dan keterampilan.
Hingga tahun 2015, saya menjuarai lomba menulis artikel tingkat mahasiswa se-Kota Serang yang diselenggarakan Perpustakaan Kota Serang. Kemudian di tahun 2016 saya juga mendapat beasiswa vokasi menulis kementrian pendidikan dan kebudayaan RI dengan berkesempatan mengunjungi Singapura selama dua hari tiga malam. Dari pengalaman itu, saya menuliskannya menjadi buku perjalanan. Di antara seratus buku yang ditulis peserta dalam ajang tersebut, lima naskah terbaik diberangkatkan ke Palu-Sulawesi Tengah mengikuti acara Hari Aksara Internasional, dan saya menjadi salah satu di antara lima penulis tersebut.
            Rumah Dunia memberi warna yang berbeda di dalam hidup saya. Dengan segala kegelisahan terhadap generasi muda yang masih banyak mengalami nol literasi seperti saya dahulu, Rumah Dunia konsisten menyebarkan virus membaca dan menulis kepada masyarakat Banten. Jika Pramoedya Ananta Toer mengatakan menulis itu untuk keabadian, maka saya kira jika Rumah Dunia bisa berbicara, ia juga akan mengucapkan, membaca mengubah dirimu, menulis mengubah dunia. Salam Literasi!
Serang, 27 Agustus 2017   



[1] Gita Rizki Utari, Kesuksesan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Literasi Informasi (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015) p. 51
[2] Firman Venayaksa dkk, “Rumah Dunia: Spirit Banten Untuk Banten,” dalam “Relawan Dunia” (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011) p.178

Komentar